Silverstone Bongkar Masalah Ducati, Grip Belakang Jadi Biang Kesulitan Márquez dan Bagnaia

Agustus 09, 2026 •
Ukuran teks

Foto: Ducati Media House
EXIT CORNER - Tim Ducati Lenovo menjalani Sprint MotoGP Inggris 2026 dengan hasil yang jauh dari harapan. Marc Márquez hanya mampu finis kesembilan, sementara Francesco Bagnaia harus menyelesaikan balapan di posisi ke-17. Hasil tersebut menjadi semakin mengejutkan karena Ducati biasanya mampu tampil kompetitif dalam format Sprint, tetapi kali ini kedua pembalap justru menghadapi masalah yang sama, yaitu kehilangan cengkeraman ban belakang.

Marc Márquez sebenarnya mengawali Sprint dengan cukup baik. Start dari posisi keenam, ia langsung naik dua posisi pada lap pembuka dan kemudian sempat berada di posisi keempat hingga memasuki paruh pertama balapan. Namun setelah itu, performanya mulai berubah. Marc merasakan penurunan grip belakang yang signifikan sehingga tidak mampu mempertahankan posisi. Pembalap Ducati tersebut akhirnya harus mundur hingga posisi kesembilan dan hanya mendapatkan satu poin. Menurut Marc, situasi tersebut cukup mengejutkan karena pada sesi latihan ia merasa ban lunak masih mampu digunakan untuk setidaknya sepuluh lap dengan kecepatan yang baik.

Masalah yang dialami Bagnaia bahkan lebih berat. Start dari posisi ke-16, ia sebenarnya mampu melakukan awal balapan yang bagus dengan naik ke posisi ke-12. Namun kecepatan tersebut tidak bertahan. Bagnaia menjelaskan bahwa kurangnya grip membuatnya kesulitan menghentikan motor sesuai keinginannya. Kondisi itu memaksanya menggunakan lebih banyak tenaga dengan gas di tengah tikungan agar motor tetap bisa berbelok, yang kemudian mempercepat keausan ban. Setelah beberapa lap, ia semakin kehilangan performa dan tidak mampu mengikuti pembalap lain yang memiliki kecepatan lebih baik.

Menariknya, meski hasil akhirnya berbeda, akar masalah kedua pembalap Ducati tersebut terlihat sama. Marc mampu bertahan lebih lama karena memulai dari posisi yang jauh lebih baik dan memiliki kecepatan lebih kompetitif pada fase awal. Ia bahkan sempat berada di posisi keempat sebelum grip belakang mulai hilang. Bagnaia tidak memiliki kecepatan awal yang sama dan sejak awal sudah kesulitan mendapatkan cengkeraman yang dibutuhkan untuk mengerem serta membawa motor melewati tikungan. Ketika kondisi ban semakin menurun, masalah tersebut menjadi semakin sulit dikendalikan.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan Ducati di Silverstone bukan sekadar masalah posisi start atau kemampuan masing-masing pembalap. Jika dua motor dari tim yang sama mengalami persoalan grip belakang dalam Sprint, ada indikasi bahwa paket motor dan ban Ducati belum bekerja sesuai harapan di kondisi balapan kali ini. Perbedaannya hanya terletak pada seberapa cepat masalah tersebut muncul dan seberapa besar dampaknya terhadap masing-masing pembalap.

Marc sendiri mengakui bahwa setelah memasuki pertengahan Sprint, targetnya berubah dari mengejar posisi menjadi sekadar menyelesaikan balapan. Sementara Bagnaia mengalami penurunan yang lebih ekstrem hingga finis ke-17 dan bahkan mengaku kesulitan menggerakkan lutut pada tahap akhir balapan. Keduanya kini memiliki pekerjaan yang sama untuk dilakukan Ducati sebelum Grand Prix: memahami mengapa grip belakang hilang begitu cepat dan mencari pendekatan berbeda agar masalah tersebut tidak kembali muncul.

Tantangannya tidak kecil karena Grand Prix Inggris akan berlangsung selama 20 lap, dua kali lipat jarak Sprint. Jika masalah grip belakang yang terlihat dalam 10 lap kembali muncul pada balapan utama, Ducati berpotensi menghadapi persoalan yang jauh lebih besar. Marc Márquez masih memiliki peluang memperbaiki hasil karena akan start dari posisi keenam, tetapi performa ban akan menjadi kunci. Bagnaia juga membutuhkan perubahan besar karena start dari posisi yang jauh lebih belakang membuatnya tidak punya banyak ruang untuk kehilangan waktu.

Sprint Silverstone akhirnya menjadi peringatan bagi Ducati Lenovo. Kecepatan satu lap yang mereka tunjukkan sebelumnya belum mampu diterjemahkan menjadi performa balapan yang konsisten. Masalah grip belakang menjadi titik yang harus segera ditemukan solusinya sebelum Grand Prix berlangsung, karena jika tidak, jarak 20 lap justru dapat membuat kelemahan yang sama semakin terlihat.